Mengenal Static Site Generator

Mengenal Static Site Generator

SSG atau CMS

Postingan ini tidak mengandung praktik sepenuhnya, tapi hanya pengenalan saja apa itu Static Site Generator dan pengalaman saya dengan Static Site Generator. Selain itu, postingan ini masih ada hubungannya dengan postingan saya yang dulu tentang The Markdown Era. Jika belum membaca postingan tersebut bisa klik link ini. Apabila sudah membacanya, pasti ada pertanyaan apa hubungan Markdown dengan Static Site Generator?.

File Statis

Saya sendiri mengenal Static Site Generator (SSG) baru beberapa tahun saja, sekitar awal Desember 2016. Untuk teman-teman yang terbiasa dengan pemrograman web pasti tidak asing dengan istilah file statis pada sebuah web, SSG sendiri tidak lepas dari hal tersebut. Kalau kita artikan secara perkata, SSG adalah Generator Situs Statis. Saat kita awal belajar membuat web pasti kita diajari dengan HTML. Setiap mau membuat halaman sebuah web kita melakukan penulisan HTML, misalnya kita akan membangun sebuah website yang terdiri halaman depan, halaman tentang, halaman blog dan halaman kontak. Dan apabila kita ingin membuat konten atau postingan kita perlu menulis secara HTML pula. Bagaimana jika kita punya 100 konten?benar, kita akan menulis sebanyak 100 file html, hal ini cukup merepotkan sekali. Apalagi kita hanya bekerja sendirian dan punya banyak proyek untuk membuat webiste. Belum lagi kalau ada kesalahan sedikit, kita perbaiki satu persatu setiap file yang kita miliki.

CMS Atau SSG

Sudah tahu nerepotkan kenapa tidak memakai CMS seperti WordPress, Drupal atau Framework beberapa bahasa pemrograman seperti Code Igniter, Django atau penyedia jasa yang mempermudah membuat blog seperti wordpress.com, blogspot.com, medium.com? Sebenarnya, SSG ini hampir sama saja kok dengan CMS atau menggunakan Framework. Yang menjadi pembeda adalah SSG ini kita tak perlu banyak resource lebih seperti CMS butuh sebuah database dan kapasitas penyimpanan yang lumayan. Tetapi, CMS sendiri punya kelebihan tersendiri kok dan apabila teman-teman sudah terbiasa dengan CMS silahkan saja dilanjutkan memakai. Dan apabila mau mencoba hal baru, SSG patut diperhitungkan untuk dicoba.

Alasan saya mencoba SSG adalah sebuah kesederhanaan yang ditawarkan, tidak perlu memikirkan database, penyimpanan, hostingan, dan masih banyak lagi. Kenapa tidak butuh database? Karena, kita menggunakan file statis dan file statisnya dibuat oleh generatornya. Sehingga, kita jadi lebih fokus untuk membuat sebuah konten. Apalagi kita menggunakan markdwon untuk membuat konten pada web kita nanti, untuk kelebihan file markdown bisa membaca tulisan saya tentang The Markdown Era. Selain menyediakan kemudahan, ada beberapa kendala yang pernah saya alami saat menggunakan SSG. Salah satu kendalanya adalah di Indonesia masih belum ada jasa hosting untuk SSG, untuk mengatasi masalah ini kita bisa menggunakan Github, Gitlab, dan penyedia Git lainnya yang mempunyai fitur serupa untuk dijadikan hosting SSG dan bisa juga menggunakan AWS S3. Sedangkan untuk memulai SSG akan mengalami sedikit kebingungan saat memulai, apalagi yang sudah terbiasa dengan CMS seperti WordPress. Saat menggunakan SSG, kita tidak disuguhkan dengan tampilan dashboard untuk membuat sebuah postingan atau mengganti tema. Di awal sudah disinggung untuk pembuatan bisa menggunakan file markdown, untuk merubah tema kita bisa membuat sendiri atau menggunakan tema yang sudah ada dan memodifikasi, selain itu sudah ada templatenya jadi lebih mudah. Apalagi kelebihan yang ditawarkan oleh SSG ini? Jika kalian penasaran dengan kelebihan dan kekurangannya dari SSG ini, sebaiknya langsung dicoba saja ya teman :D.

Macam-Macam SSG

Awal mula, saya menggunakan Jekyll sebagai SSG pertama saya, membuat blog sederhana yang berisi kerandoman saya tentang Linux :D, untuk memulai mencoba menggunakan SSG bisa berdasarkan bahasa pemrograman yang teman-teman sukai.

Untuk yan suka dan terbiasa menggunakan JavaScript bisa mencoba :
1. Next.js
2. Gatsby
3. Nuxt

Sedangkan programmer Go, bisa menggunakan:
1. Hugo
2. Gor
3. Gostatic

SSG dari pemrograman Ruby ada:
1. Jekyll
2. Slate
3. Octopress

Kalau yang terbiasa menggunakan PHP sebagai bahasa utamanya bisa mencoba:
1. Jigsaw
2. Sculpin
3. Couscous

Untuk Python developer bisa menggunakan:
1. Pelican
2. makesite.py
3. MkDocs

Yang terakhir pengguna R, bisa mencoba:
1. Blogdown
2. Bookdown
3. R Markdown

Jamstack

Sebenarnya masih banyak lagi, hampir setiap bahasa pemrograman bisa untuk SSG. Yang saya sebutkan adalah beberapa bahasa pemrograman yang sering saya temui saja. Saya sendiri, untuk saat ini saya menggunakan Blogdown. SSG dari bahasa pemrograman R, walau menggunakan pemrograman R tetap saja menggunakan dasar pemrograman Go untuk pendukung karena Blogdown dibuat dengan Hugo. Dari daftar yang saya sebutkan, saya baru mencoba, Jekyll, Hugo, Pelican dan Blogdown. Dalam dunia SSG adalah istilah JAMSTACK, apa sih JAMSTACK itu? Menurut salah member grup telegram sebut saja namanya Rania, Jam’iyah Stackgnan :D. Itu bukan arti sebenarnya kok, tetapi hampir mendekati. Untuk Jamstack bisa teman cari sendiri yaK :D. Karena, postingan ini tidak ada praktiknya dan saya rasa cukup segini saja biar tidak bosan membacanya :D. Terima kasih sudah membaca, mungkin ada beberapa kata yang typo atau sedikit membingungkan bisa langsung komentar saja. Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

Sumber:
Tentang Jamstack
Tentang Static Site Generator
Grup Telegram Gimscape Indonesia

Share This Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *